PEKANBARU – Bakal Calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) asal Riau, KH Abdul Khalim Mahali, LL.B (Hons), MPIR, mendapatkan dukungan dari Dewan Pertimbangan Presiden RI (Wantimpres RI) Maulana Habib Lutfi Bin Yahya.
Gus Mahali sendiri muncul sebagai Generasi NU Milenial kelahiran Kepulauan Meranti, Riau, dalam panasnya hawa pra Muktamar NU ke-34 yang akan dilaksanakan di Lampung.
Sosok Gus Mahali diharapkan Habib Luthfi menjadi penyejuk atau kekuatan poros tengah diantara Caketum PBNU petahana KH. Said Agil Siroj dan KH. Yahya Staquf yang saat ini adalah Katib Aam PBNU.
“Maulana Habib Lutfi menyampaikan ke saya Shubuh Kamis 9 Desember 2021 bahwa Gus Mahali adalah Calon Ketua Umum PBNU alternatif, berusia muda dan inilah Poros Tengah di Muktamar NU ke-34 Lampung,” kata Pengasuh Majlis Kanzus Sholawat Cabang Kudus Jawa Tengah, KH. Mustain Yusuf.
Kyai Mustain menambahkan bahwa sebagai salah satu Ulama Karismatik NU sekaligus Pimpinan Organisasi Tarekat Al-Muktabaroh An-Nahdliyyah, Maulana Habib Lutfi telah mengetahui status Gus Mahali sebagai cucu salah satu Dewan Pendiri NU, yakni KH. Humaidi Sholeh.
Habib Lutfi Bin Yahya juga membuka sejarah bagaimana PBNU mengalami kemajuan pesat dipimpin oleh Dr. KH. Idham Chalid asal Kalimantan Selatan yang usianya sangat muda, yaitu 34 tahun.
“Kyai Idham Chalid memimpin PBNU selama 5 periode 1956-1984 dalam usia muda. Beliau sangat takzim atau dikenal menghormati Para Ulama dan Kyai NU,” imbuh Kyai Mustain mengutip yang dikisahkan oleh Wantimpres RI Maulana Habib Lutfi sebelum sholat Shubuh di kediamannya, Pekalongan, Jawa Tengah.
#M244571ScriptRootC1191910 { min-height: 300px;text-align:center; display:block;margin:15px 0 }
Kyai Mustain menambahkan bahwa Gus Mahali sangat layak memimpin PBNU meskipun terbilang muda dari sisi usia. “Saya sudah membaca biodata Gus Mahali. Bersama sejumlah sahabatnya, beliau mendirikan NU Istimewa Cabang Pakistan 28 Mei 2005 dalam usia 25 tahun saat kuliah di luar negeri dan menjabat Dewan Syuriah PCI NU Pakistan. Di usia 33 tahun sudah mendirikan Majlis Ta’lim Rasulullah SAW dan Majlis Sholawat Nabi serta memfasilitasi berdirinya Ponpes Raudhatul Ulum di kampung halamannya dan di umur 38 tahun menjadi Dewan Syuriah PWNU Provinsi Riau,” papar Kyai Mustain.
Memang, didalam diri Gus Mahali mengalir darah NU, dimana ayahnya, Muzakki Umar, adalah alumnus Ponpes Benda Pare Kediri, Jawa Timur yang pernah dididik oleh KKO (Marinir) atas perintah Presiden Soekarno tahun 1962 saat masih di Satuan Banser NU untuk dikirim menjadi sukarelawan perang ke perbatasan Malaysia-Indonesia.
Sementara ibunya, Zainab Binti KH. Humaidi Sholeh, adalah kelahiran Cirebon alumnus Ponpes Mambaul Maarif Denanyar Jombang Jawa Timur yang saat ini Dewan Penasehat Muslimat NU sekaligus Sesepuh Penceramah Wanita di Kabupaten Kepulauan Meranti diusianya yang sudah 81 tahun.
Tak heran, Bupati Meranti, Irwan Nasir, memberi Zainab Piagam Penghargaan sebagai Perempuan Berdedikasi di Sempena Hari Ibu Desember 2014 atas dedikasinya pada masalah soaial-keagamaan selama puluhan tahun.
Kyai Mustain sangat meyakini Gus Mahali akan mampu menjadi seorang pemimpin yang baik. Latarbelakang pendidikannya juga mendukung karena Gus Mahali alumnus Universitas Islam Antarabangsa berkaliber internasional dimana ia memperoleh didikan beragam disiplin ilmu pengetahuan dari Para Ulama Timur Tengah serta para dosen lulusan Eropa dan Asia.
Sejumlah Kyai NU berharap Gus Mahali mampu menjaga keseimbangan dalam memimpin PBNU dengan menjaga tradisi klasik NU dan menyerap modernisasi sesuai dinamika zaman.
Kyai Mustain mendampingi Gus Mahali selaku Generasi NU Milenial dalam bersilaturrahim ke Maulana Habib Lutfi.
“Di kamar pribadi Maulana Habib Lutfi, Gus Mahali diberi titah untuk segera menyampaikan atau mengumumkan pencalonannya sebagai Kandidat Ketua Umum PBNU 2021-2026. Wantimpres RI ini juga meminta agar Gus Mahali tetap menjaga kehormatan Organisasi Nahdlatul Ulama ini dengan menghindari penggunaan praktik politik uang,” kata Kyai Mustain.
Gus Mahali berjanji akan melaksanakan pesan Maulana Habib Lutfi tersebut. Belum lama ini Dewan Pendiri Ponpes Raudhatul Ulum Playar, Kundur, Kab. Kep. Meranti, Riau ini juga menyampaikan ke media massa berisi himbauan agar Para Ulama dan Kyai NU se-Indonesia berkenan melakukan Doa Bersama atau Tahlil Akbar untuk kelancaran Muktamar NU di Lampung pada 23-25 Desember mendatang.
Menyikapi situasi pra Muktamar NU yang sempat memanas kemarin apakah dimajukan atau dimundurkan waktu pelaksanaan Muktamar di tanggal 17 Desember atau 31 Januari 2022, Gus Mahali berharap hal tersebut tidak diperdebatkan lagi karena PPKM telah dibatalkan oleh pemerintah.
Menurutnya, perbedaan cara pandang di kalangan NU adalah hal biasa. Seluruh Nahdliyyin dan Para Kyai NU pasti akan lebih mengutamakan kebersamaan.
“Kita berkaca pengalaman Muktamar NU ke-33 di Jombang yang sempat diwarnai kekacauan atau perselisihan. Setelah Muktamar selesai maka selesai semua hal. Rencana sebagian kalangan yang akan ke pengadilan menuntut penyelesaian yang disebut kecurangan atau lainnya juga dibatalkan demi kekompakan semua warga NU,” kata Gus Mahali mengenang kisruh di Jombang saat dihubungi melalui sambungan selulernya.
Gus Mahali mengungkapkan bahwa dirinya sengaja terbang dari Riau untuk bersilaturrahim khusus ke kediaman Maulana Habib Lutfi di Pekalongan Jawa Tengah dalam rangka meminta restu dan petuah. Apalagi, beliau adalah salah satu Sesepuh Ulama NU yang menjadi panutan dan kakeknya Almaghfurlah Habib Hasyim juga salah satu Dewan Pendiri Nahdlatul Ulama bersama Hadrotussyaikh Hasyim Asy’ari.
Selain itu, Gus Mahali ingin meneruskan perjuangan besar kakeknya (KH. Humaidi Sholeh) yang juga Dewan Pendiri NU Indonesia tahun 1925-1961. Makanya, Alumnus Ponpes Al-Falah Pedekik Kab. Bengkalis Riau ini kemudian setuju ketika diminta sejumlah Kyai NU untuk ikut bursa pencalonan Ketua Umum PBNU Periode 2021-2026 di Muktamar ke-34 di Provinsi Lampung.




