PEKANBARU – Ketua Korps Mahasiswa Hubungan Internasional (Komahi) Universitas Riau, Voppy Rosea Bulki, mengakui bahwa partisipasi perempuan dalam dunia politik masih sangat kurang.
Namun, dia terus berupaya untuk mensosialiasikan pentingnya berpolitik kepada mahasiswi yang ada di lingkungannya. Sebab, dalam forum pimpinan organisasi internal Fisip, Voppy menjadi satu-satunya perempuan.
“Sedih rasanya, kenapa tidak ada perempuan yang mau mengambil estafet kepemimpinan di organisasinya,” ujarnya, Rabu (15/12/2021).
Diakui Voppy, UU sendiri sudah memberikan kesempatan kepada perempuan untuk terjun ke politik dengan jaminan kuota 30 persen di parpol dan Pemilu legislatif.
“Kita sudah diberi ruang untuk bergerak dan bersuara, tapi perempuan masih banyak yang menutup diri, takut dengan politik, takut menjadi garda terdepan. Saya mungkin bisa meng-trigger bahwa perempuan harus berani tampil di politik,” jelasnya.
Ditegaskan Voppy, dirinya tidak dalam posisi menentang laki-laki, namun dia hanya ingin mengubah kultur yang selama ini berlaku di masyarakat bahwa posisi perempuan itu dibawah laki-laki.
“Saya menentang patriarki. Saya banyak dapat rintangan dari senior. Dan itu yang terus saya usahakan sampai ke titik ini,” tambahnya.
#M244571ScriptRootC1191910 { min-height: 300px;text-align:center; display:block;margin:15px 0 }
Voppy tak memungkiri, dirinya banyak menerima tawaran dari Parpol untuk memperjuangkan kasus pelecehan seksual yang terjadi di kampusnya. Namun, tawaran itu dia tolak karena ingin mempertahankan idealisme.
“Biarkan kami mengeksplor kegiatan mahasiswa, biarkan kami mau mengubah keadaan yang menurut kami benar sesuai dengan idealisme mahasiswa. Nanti setelah kami tamat dari mahasiswa, kami tahu kemana akan pergi,” terangnya.
Jika saat ini dia dan Anggota Komahi Unri menerima tawaran Parpol, dia khawatir tidak ada lagi kepercayaan kepada pergerakan mereka ini. Makanya, mereka lebih berjuang tanpa melibatkan Parpol.
“Kalau terlihat satu saja Parpol yang membersamai kami, maka tidak ada lagi kepercayaan. Saya dan teman-teman banyak menerima ancaman, tapi itu kami netralisir dengan darah perjuangan kami,” tutupnya.




