oleh

Cak Nanto, Juang Membesarkan Sesama

Inforiau.ID – Gayanya sederhana, humble, dan jenaka. Tidak ada yang berubah sejak saya mengenalnya di Jogja sekitar 12 tahun lalu, kendati kini dia mulai merasakan manisnya hasil dari jerih payahnya selama merantau di Jakarta.

Keras serta pahit getirnya kehidupan Jakarta tidak menyurutkan langkahnya untuk terus perjuangan mencari nafkah bagi keluarganya. Saya mengenal @cak Nanto bukan kader IMM Sukoharjo yang cengeng.

banner 300x250

Di saat banyak teman yang tidak kuat berkiprah di organisasi nirlaba seperti JPPR, dia terus menapaki tangga karirnya dengan sabar. Membangun jati diri sebagai pendidik kepemiluan, merupakan tugas mulia dalam mengawal pesta demokrasi sekaligus proses individuasi sebagaimana yang dipesankan para senior di pengkaderan dulu kalau ingin sukses di Jakarta.

Buah dari kesabaran itu, kini Cak Nanto menempati posisi puncak di organisasi nirlaba sekelas JPPR yang merupakan konsorsium dari berbagai ormas kepemudaan yang bergerak dalam pendidikan pemilih di Indonesia. Sebuah pencapaian seorang anak kampung yang luar biasa, mengingat dia bukan anak siapa-siapa, apalagi mengandalkan harta orang tuanya.

Banyak pemimpin yang saya kenal, tapi Sunanto mungkin sedikit dari tipe pemimpin yang justru menegaskan makna perjuangan di saat puncak karirnya.

Cak Nanto tipe pemimpin yang punya prinsip win win solution. Kalau bisa maju bersama kenapa harus menang sendiri apalagi saling menjatuhkan. Sikap solidaritasnya terhadap kawan tak jarang membuatnya sering mengalah. Tapi mungkin tidak untuk kali ini.

Mottonya “Membesarkan Sesama” tidak lagi isapan jempol belaka. Cak Nanto terus menebarkan virus kesuksesannya ke pelosok negeri.

Bagi saya dia antitesis pemimpin yang angkuh dan lupa daratan di tengah germelap popularitas. Bagaimana menurut Anda?

Dikutip dari FB Muhammad Fackhruddin (Sahabat Cak Nanto dan Kader Pemuda Muhammadiyah)

(AK20)