oleh

Ratna Sarumpaet Ngamuk, Keluarga Korban: Jangan Cari Panggung di Atas Derita Orang!

MEDAN – Aktivis, Ratna Sarumpaet terlibat cekcok dengan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan, di Posko SAR Terpadu tenggelamnya kapal motor (KM) Sinar Bangun, di Pelabuhan Tigaras, Simalungun, Sumatera Utara, Senin (2/7/2017).

Keduanya terlibat cekcok setelah Ratna memprotes keputusan pemerintah menghentikan upaya pencarian para korban mulai 4 Juli 2018. Protes itu disampaikan Ratna sembari berteriak, saat Luhut tengah berdialog dengan para keluarga korban. Luhut pun membalas amuk Ratna dengan meminta petugas membawa Ratna keluar dari Posko.

banner 300x250

Aksi “Amuk” Ratna itu pun mendapat respons beragam dari keluarga korban. Ada yang mendukung, namun banyak pula yang mencibir.

Seperti Paulina Girsang. Perempuan paruh baya itu mendukung amuk yang dilakukan Ratna, karena menilai upaya pencarian yang dilakukan pemerintah belum maksimal hingga hari ke-15 hari ini. Padahal bangkai kapal tersebut sudah ditemukan.

“Sudah betul itu (Amuk Ratna). Harus ada yang seperti itu supaya pemerintah ini benar kerjanya. Kami harus dapat kepastian lah. Kalau pun tak jasadnya, paling enggak entah bajunya, celananya atau barang pribadinya lah diambil. Jadi kami tahu keluarga kami jadi korban atau tidak. Ini kan enggak. Dari kemarin kapal dapat, tapi enggak diangkat-angkat,” tukas Paulina.

Pendapat berbeda datang dari Rapidin. Ia justru mencibir apa yang dilakukan ibu dari artis Atika Hasiholan itu. “Harusnya tidak perlu ribut-ribut lah. Pemerintah juga sudah berupaya maksimal. Memang ada kesalahan pemerintah, tapi apa yang terjadi saat ini juga mereka tidak inginkan. Jadi alangkah lebih baik kita selesaikan dengan kepala dingin. Ada cara lebih bijak seharusnya,” kata Rapidin Purba, salah seorang keluarga korban.

Hal senada disampaikan Murni Samosir. Murni yang kehilangan anak perempuannya dalam insiden itu meminta agar Ratna tak justru membuat gaduh dalam kesedihan mendalam yang mereka rasakan.

Murni bahkan menegaskan, jika memang mau membantu, sebaiknya diwujudkan dalam bentuk nyata. Bukan justru membuat kegaduhan.

“Kalau cari panggung jangan di atas penderitaan orang. Dia apa mengerti masalahnya. Kami yang paling ingin agar keluarga kami ditemukan. Tapi kami harus tetap rasional, seperti yang disampaikan Pak Luhut tadi,” tukasnya.

(kha)