oleh

Bersama WWF Indonesia, Rumah Sunting Laksanakan Literasi Puisi

Penyair Riau Kunni Masrohanti menyimak dan meneliti puisi yang ditulis anak-anak Rimbang Baling, Desa Terusan.

PEKANBARU – Mengajar membaca dan menulis puisi inilah yang sedang dilaksanakan Komunitas Seni Rumah Sunting (KSRS)  pimpinan penyair dan sastrawan Riau, Kunni Masrohanti saat ini. Tepatnya di Desa Terusan, Rimbang Baling, Kamparkiri Hulu, Kabupaten Kampar.

Selain Desa Terusan masih ada beberapa desa lainnya yang akan menyusul. Desa Terusan sendiri lokasinya cukup jauh. Perlu waktu dua jam dari Desa Gema dengan menggunakan perahu mesin. Tidak ada jalan darat dan tidak ada signal. Berbatasan dengan Sumbar karena Sungai Subayang yang membelah kawasan Rimbang Baling ini juga berhulu ke Sumbar.

banner 300x250

“Yang membuat kami bahagia, anak-anak di Terusan ini sangat antusias. Mereka senang kami datang. Mengajarkan memahami dan menulis puisi bersama mereka sangat luar biasa. Kegiatan ini merupakan kerjasama WWF Indonesia Program Sumatera Tengah dengan Rumah Sunting. Siapapun itu, yok bergerak bersama untuk literasi melalui puisi,” kata Kunni.

Rimbang Baling memang merupakan kawasan konservasi dengan status suaka margasatwa. Satwa liar seperti harimau dan beruang masih hidup di sini. Ini membuktikan hutan alamnya masih bagus dan harus Terus dijaga bersama-sama.

“Menjaga alam, hutan dan sungai Itu kewajiban bersama.  Mengapa nenek moyang, orang-orang dulu membangun kampung di tepi sungai, karena sungai sumber kehidupan, tempat minum dan di dalamnya banyak ikan. Kalau dekat sungai, berarti juga dekat hutan yang di dalamnya juga sumber kehidupan, tempat mencari makan. Jadi, kebudayaan manusia, bermula dari sana, sebuah peradaban lahir di sana. Kalau hutan dan sungai rusak, hilang kebudayaan,  hilang peradaban. Makanya belajar puisi ini temanya konservasi. Kami tidak hanya mengajarkan puisi kepada anak-anak,  tapi kami justru banyak belajar dari mereka dan orang tua mereka.  Mereka tahu betul bagaimana menjaga desa,  hutan dan sungainya.  Kami saling berbagi dan akan kami bagikan lagi lewat puisi, ” kata Kunni.

Dua kali datang ke Desa Terusan, anak-anak sudah menghasilkan karya puisi.  Ringan,  mudah difahami sebagaimana mestinya karya anak-anak meski masih perlu bimbingan.  Untuk Itu sistem belajar yang digunakan yakni berkelompok atau face to face atau satu guru mengajar enam anak.  Puisi-puisi tersebut nantinya akan dibukukan dan dibagikan ke berbagai perpustakaan.

“Semua Warga Desa Terusan menyambut baik. Pak wali atau kepala desa hingga masyarakatnya, ramah semua. Pokoknya kami banyak belajar dari mereka. Semoga karya anak-anak ini menjadi inspirasi bagi semua anak-anak di Indonesia. Dan meski mereka jauh dari kota, tinggal di pelosok, orang-orang di luar sana perlu tahu kalau mereka anak-anak Indonesia yang membanggakan, menjaga alam, tradisi dan adatnya,” sambung Kunni.

Kepala Desa Terusan, Ismail, sejak awal menyambut gembira kedatangan tim ini. Dia mempertemukan Tim Literasi Rumah Sunting dengan perwakilan masyarakat saat sosialisasi,  seperti Datuk Pucuk, tokoh masyarakat dan tokoh pemuda. “Niat yang baik,  kami sambut dengan baik. Apalagi ini untuk anak-anak kami.  Melihat mereka semangat belajar puisi,  kami sangat bangga. Ini kali pertama bagi anak-anak,” katanya.

Tentu Kunni datang tidak sendiri.  Dia Bersama tiga guru puisi lainnya dan tim Rumah Sunting.  Ada Syamsir alias Icamp Dompas, Kasmono,  DM Ningsih,  Asmet alias Kacamata Gober,  Farid J dan Ana. 

Sementara itu, Staf Komunikasi WWF,  Syamsidar,  menyebutkan, kegiatan ini merupakan bagian program edukasi konservasi untuk anak-anak di kawasan Rimbang Baling. “Semoga apa yang kami lakukan turut memperkuat rasa bangga yang dimiliki masyarakat terhadap pelestarian budaya dan alam Rimbang Baling, salah satunya melalui karya puisi tentang konservasi, ” katanya.