oleh

Merantau Itu Bagi Orang Minang ‘Tradisi’, Zahirman Zabir: Jika Sudah Pulang, Sumbar Itu Penuh Sampai Puncak Gunung Marapi

Zahirman Zabir

SIAK – Tokoh Masyarakat Minang Riau, sekaligus ketua Gonjong Limo Riau, Zahirman Zabir menguraikan, dalam disertasi Muktar Naim, merantau bagi masyarakat Minang adalah tradisi, secara turun menurun sejak lama.

Tidak mencengangkan bila orang Minang ada dimana-mana. Pada 2007, Sumatra Barat macet parah, karena banyaknya orang Minang pulang kampung.

banner 300x250

“Kalau orang Minang pulang semua maka daerahnya akan, penuh sampai puncak gunung Marapi. Begitu banyaknya kita di rantau,” kata pria yang juga seorang dosen di perguruan tinggi ini.

Sementara itu, kata dia, AMMI merupakan implementasi dari karaketer orang Minang di perantauan. Sedangkan ciri-ciri perantau Minang, adalah membangun.

“Contoh, ketika sudah ada beberapa orang Minang berkumpul, mereka membangun mesjid, kalau belum mampu setidaknya membangun musala,” kata dia.

Menurut dia, AMMI sudah mengejawantahkan petuah-petuah Minang Kabau, yang begitu mudah bersosialisasi dan beradaptasi. Kemudian, tidak pernah membuat keributan di mana-mana.

“Kita harapkan AMMI berpegang dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung,” kata dia disela pelantikan pengurus DPD Aliansi Muda Minang Indonesia (AMMI) Siak, Kamis (13/12/2018).

Dia menambahkan, bicara orang Minang di Riau persentasenya cukup tinggi. Di kota Pekanbaru mencapai 65 persen.

“Orang Minang yang ada di Riau adalah orang Riau yang berasal dari Minang. Itu hasil kongres masyarakat Riau,” kata dia.