oleh

15 Anak Muda di Dumai Ini Kawal Ambulance Saat Darurat, Ini Latarbelakangnya..

Anggota RPAI Kota Dumai berfoto melakukan pengawalan ambulance yang membawa pasien darurat ke RSUD Dumai

DUMAI – Kegiatan lima belas orang anak muda di Dumai ini perlu diapresiasi, karena mereka mengisi waktu luangnya untuk melakukan pengawalan mobil ambulance yang tengah membawa pasien.

Pengendara motor yang hobi melakukan pengawalan terhadap ambulance dalam kondisi darurat tersebut tergabung di dalam organisasi Relawan Pengawal Ambulance Indonesia (RPAI) Dumai.

banner 300x250

Ketua RPAI Dumai, Windi Admaja mengaku, pembentukan komunitas tersebut dikarenakan masih banyak pengendara kendaraan bermotor di Dumai yang tidak menghiraukan raungan suara ambulance yang membawa pasien dalam keadaan darurat tersebut, dimana ambulance merupakan kendaraan prioritas disaat mengangkut dan menjemput orang sakit, setelah mobil pemadam kebakaran.

“Semenjak berdirinya RPAI di Dumai, masyarakat sudah mulai merespon dengan baik dengan cara memberikan ruang jalan kepada ambulance, dimana sebelumnya ambulance sangat sulit berjalan untuk mencapai Rumah Sakit yang dituju, khusunya RSUD Dumai,” kat Windi Admaja, Rabu (23/1/2019).

RPAI di Dumai sendiri terbentuk setelah mendapat persetujuan dari RPAI Pekanbaru, dimana komunitas tersebut mulai berdiri di kota Medan yang digagas oleh M Ridho Chaniago.

Pria yang akrab dipanggil Babang tersebut mengaku, terdapat sensasi sendiri dalam melakukan pengawalan ambulance yang tengah melintas padatnya arus lalu lintas, apalagi pengawalan yang dilakukan berhasil sesuai dengan waktu sehingga pasien dapat terselamatkan nyawanya.

“Kita juga pernah mengalami kegagalan melakukan pengawalan, dimana pasien kritis yang kita kawal meninggal dunia sebelum sampai kerumah sakit, kami merasa berdosa sekali karena gagal menyelamatkan nyawa orang lain,” katanya.

Babang sendiri merupakan pekerja di Gardu Induk Perusahaan Listrik Negara (PLN) Dumai, mengaku pengawalan sendiri dilakukan pihaknya mendapat informasi dari pengemudi ambulance yang akan membawa pasien ke rumah sakit, pengawalan sendiri dilakukan dengan cuma-cuma tanpa adanya tuntutan kepada pihak supir maupun keluarga pasien.

“Tidak hanya bagi pengemudi ambulance yang memberi tahu kepada RPAI mendapat pengawalan, Ambulance yang kita temui dijalanan juga akan kita kawal sesuai dengan rumah sakit yang akan ditujuinya, dan jika ada anggota RPAI yang melakukan pungutan kepada supir dan keluarga pasien, akan kita pecat langsung tanpa ada sanksi-sanksi lain,” katanya kembali.

Tidak hanya pengawalan ke Rumah Sakit yang ada di kota Dumai, Babang juga mengaku pihaknya akan melakukan pengawalan ambulance hingga ke perbatasan kota Dumai, dimana pasien yang dibawa harus di rujuk ke Rumah Sakit di Kota Pekanbaru maupun Medan.

“Kita juga akan melakukan koordinasi dengan relawan yang tergabung di RPAI, bahwa ada ambulance yang membutuhkan bantuan pengawalan melewati daerah rekan-rekan kita di luar Dumai,” katanya menjelaskan.

RPAI Dumai sendiri terbentuk pada 26 Agustus 2018 yang lalu, dimana pihaknya membutuhkan dukungan dari pihak yang terkait serta masyarakat agar aksi kemanusian mereka dapat terus terlaksana demi menyelamatkan nyawa pasien.

“Kita juga berharap, agar masyarakat lebih peka terhadap suara ambulance, karena ada seseorang yang berjuang antara hidup dan mati di dalam mobil ambulace,” katanya mengakhiri.