oleh

Kepala BRG: Luas Lahan Gambut di Kabupaten Siak 869.721 Hektar

Lahan di Kabupaten Siak, Riau dilihat dari atas jembatan Maredan.

SIAK SRI INDRAPURA – Berdasarkan data dari Badan Restorasi Gambut (BRG), luas lahan gambut di Kabupaten Siak, Riau, seluas 869.721 hektar. Artinya luas lahan di Kabupaten Siak lebih dari 50 persen merupakan lahan gambut.

Hal itu diungkapkan Kepala BRG, Nazir Foead disela-sela acara Workshop Pengembangan Sistim Aerohydro Culture di Lahan Gambut di Siak, Senin (4/2/2019). Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2016, menegaskan ketinggian muka air tanah di lahan gambut harus dijaga agar tidak sampai lebih dari 40 cm di bawah permukaan gambut.

banner 300x250

“Hal ini penting untuk menjaga tingkat kebasahan lahan gambut. Bagi beberapa pemangku kepentingan dan pengelola budidaya di lahan gambut, ketentuan tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga produktivitas tanaman. Resiko pengeringan lahan gambut selain mengakibatkan turunnya permukaan lahan gambut (subsidence) juga rentan terjadinya kebakaran,” kata Nazir.

Ekosistem gambut secara fitrahnya adalah lahan basah dan perlu ada tata kelola yang ramah gambut yang berkelanjutan, serta tidak merusak lahan gambut, sambungnya. Para peneliti baik peneliti Indonesia dan internasional sudah banyak meIakukan penelitian mengenai ekosistem gambut dan metode restorasi gambut.

“Hari ini dalam kesempatan acara Workshop Pengembangan Teknik Aerohydro Culture di Lahan Gambut yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Siak diperkenalkan satu inovasi yang dapat menjadi solusi untuk menjaga produktivitas tanaman di lahan gambut sambil tetap menjaga tinggi muka air gambut,” ungkapnya.

Kabupaten Siak sendiri lebih dari 50 persen luas total wilayah seluas 869.721 hektar merupakan lahan gambut, lanjutnya. Inovasi semacam ini sangat membantu baik bagi regulator dan pemangku kepentingan budidaya lahan gambut di Kabupaten Siak.

“Selain memberi jawaban dalam pengelolaan lahan gambut yang kompleks, dimana banyak variabel-variabel unik yang harus terpenuhi, di masa mendatang dasar-dasar kajian ilmiahnya adalah bahan penting dalam penyusunan peraturan kelola lahan gambut, terutama di tingkat daerah,” ujarnya.

Workshop semacam ini penting sebagai ajang untuk sharing ilmu dan metodologi terkait pengelolaan lahan gambut agar tidak melanggar kaidah dan tata aturan, dijelaskannya. Di lain pihak, memberi manfaat baik secara ekonomis dan ekologis bagi mereka yang bergerak di budidaya lahan gambut.

“Workshop yang berlangsung hari ini dan akan dilengkapi kunjungan langsung ke area praktik di perkebunan masyarakat di Benteng Hulu dan Koto Ringin, Mempura, Siak. Lokasi ini akan menjadi contoh Iangsung penerapan Sistem Kultur Aerohydro yang sudah memberi manfaat,” jelasnya.

Pemerintah Kabupaten Siak sangat mendukung inovasi sistim kultur Aerohydro ini, jelasnya. Terlebih karena sebagian besar wilayah gambut di Siak dimanfaatkan untuk hutan tanaman dan perkebunan.

“Kami siap untuk menjadi lokasi penelitian pengembangan sistem ini dan mendukung penuh kegiatan ini meskipun bersifat jangka panjang, yakni minimal 2 tahun. Kami optimis bahwa inovasi ini akan memberikan manfaat besar terutama bagi Kabupaten Siak,” ungkap Bupati Siak, Syamsuar.