oleh

Hinsatopa Simatupang Dituntut 3 Tahun Penjara karena Palsukan SKGR di Jalan Pramuka Rumbai Pesisir

Suasana Persidangan Hinsatopa Di Pengadilan Negeri Pekanbaru, Selasa(19/2/2019)

PEKANBARU – Setelah berkali-kali ditunda, sidang mantan Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Riau, Hinsatopa Simatupang memasuki tuntutan. Ia dituntut hukuman 3 tahun penjara karena menurut JPU terbukti memalsukan Surat Keterangan Ganti Rugi (SKGR) lahan di Jalan Pramuka Kelurahan Lembah Sari, Kecamatan Rumbai Pesisir, Pekanbaru.

Pada tuntutan yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU), Erik, Hinsatopa melanggar Pasal 263 ayat (1) jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, secara bersama-sama turut membuat surat palsu.

banner 300x250

“Menuntut terdakwa Hinsatopa Simatupang dengan pidana penjara selama 3 tahun,” sebut Erik di hadapan majelis hakim Pengadilan Negeri Pekanbaru yang diketuai Riska Widiana pada Selasa (19/2/2019).

Hinsatopa menyatakan akan melakukan pembelaan atau pledoi pada sidang pembacaan pledoi yang diagendakan pada Kamis (21/2/2019).

Penasehat Hukum Hinsatopa, Alhendri Tanjung mengaku kecewa dengan tuntutan JPU karena dari fakta-fakta persidangan tidak ada saksi-saksi yang menyebutkan keterlibatan terdakwa dalam pemalsuan SKGR itu.

“Tuntutan jaksa ini sangat tidak masuk akal dan sangat tinggi. Kita sangat kecewa dengan tuntutan jaksa dan kita akan menyampaikan pledoi pada sidang Kamis nanti,” jelas Alhendri.

Diketahui Hinsatopa didakwa ikut serta melakukan pemalsuan SKGR secara bersama-sama dengan tiga mantan lurah, yakni Gusril, Fadliansyah dan Budi Marjohan, pengacara Agusman Indris dan Poniman. Keempat rekan Hinsatopa ini telah divonis oleh PN Pekanbaru.

Yang mana pada tahun 2012 lalu Hinsatopa diduga terlibat dalam terbitnya SKGR Nomor 22/PEM/LS/II/2012 tanggal 14 Februari 2012 yang diketahui oleh Lurah Lembah Sari dan Camat Rumbai Pesisir dengan Nomor Register 595.3/KRP-PEM/115 tanggal 14 Februari 2012.

Penerbitan SKGR di tanah milik Boy Desvinal seluas 6.987,5 meter persegi di Jalan Pramuka RT 04 RW 04, Kelurahan Lembah Sari, Kecamatan Rumbai Pesisir itu telah berdiri pondok kayu yang ditempati orang lain. Tidak terima, Boy Desvinal melaporkan hal itu ke Polresta Pekanbaru.

Berdasarkan fakta yang ditemukan oleh penyidik, SKGR dengan nomor registrasi tersebut diketahui pihak pertama adalah Idris M dan pihak kedua Lamsana Sirait yang dikeluarkan Kelurahan Lembah Sari ternyata tidak sesuai prosedur. Pasalnya, letak tanah yang ada di SKGR tersebut ternyata berada di Kelurahan Lembah Damai, bukan di Kelurahan Lembah Sari.

Diduga tanda tangan dari sempadan yang ada di surat sempadan tanah yang satu kesatuan dengan surat SKGR tersebut atas nama Ismail diduga palsu. Hal itu sesuai pemeriksaan dokumen ke Labfor Mabes Polri pada tanggal 29 Maret 2017 dengan hasil menunjukkan bahwa tanda tangan Ismail ternyata non identik.