Literasi Masyarakat Riau Tertinggi di Indonesia

PEKANBARU — Mantan Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau Drs. Songgo Siruah, M. Hum., mengungkapkan, tingkat literasi masyarakat Riau merupakan yang tertinggi di Indonesia, mengalahkan DKI Jakarta dan Yogyakarta.

“Ini hasil penelitian yang dilakukan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa tahun 2018. Jadi, Riau boleh disebut sebagai daerah yang sudah melaksanakan praktik literasi menggembirakan, namun perlu terus ditingkatkan. Literasi yang baik itu adalah, orang membaca, memahami dan melaksanakan apa yang dia baca,” kata pemerhati bahasa dari Balai Bahasa Provinsi Riau ini, saat menyampaikan materi dalam acara Kopi dan Literasi bertajuk “Bahasa Penguat Sastra dan Budaya di Era Milenial” yang ditaja Balai Bahasa Provinsi Riau, di Kong Djie Coffee and Resto, Jalan Arifin Achmad Pekanbaru, Riau, Selasa (1/9/2020) malam.

Diskusi ini dilatarbelakangi keinginan meningkatkan minat masyarakat terhadap literasi. Atas dasar itu, Balai Bahasa Provinsi Riau bekerja sama dengan Lembaga Kerapatan Adat Melayu Riau (LKAMR), Majalah Sagang, dan Majalah Be menggelar kegiatan Kopi dan Literasi.

Kegiatan yang juga ditaja dalam rangka Bulan Bahasa dan Sastra 2020 ini, juga menghadirkan Ketua Umum LKAMR Datuk H. Al Azhar, Direktur Yayasan Sagang Kazzaini KS dan Owner Salamah Publishing Siti Salmah, sebagai pamateri. Diskusi dimoderatori oleh Dr. Fatmawati Adnan, M.Pd., dari Balai Bahasa Provinsi Riau. Hadir pula dalam acara ini Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau yang baru, Drs. Muhammad Muis, M.Hum dan Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Riau Yoserizal Zein.

Menurut Songgo, kegiatan Kopi dan Literasi ini sangat penting karena bisa mempertemukan pengguna bahasa Indonesia dari berbagai ragam, aliran, dan generasi. Sehingga, akan timbul sikap positif masyarakat terhadap bahasa Indonesia.

“Bahasa Indonesia digunakan di berbagai tempat, termasuk di ruang publik. Guna peningkatan penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik, diperlukan adanya upaya kuat untuk menata dan membangun kembali karakter bangsa dalam hal berbahasa Indonesia. Ini tentu perlu melibatkan pemerintah dan dukungan dari masyarakat,” kata Songgo.

Dijelaskan Songgo, media cetak, media daring dan ruang publik dapat diakses oleh siapa pun dan menjamin kebebasan beraktivitas. Untuk itu, ruang publik juga harus tanggap atau mampu memenuhi kebutuhan warga yang terwujud dalam disain fisik dan pengelolaannya.

“Selain itu, ruang publik harus meningkatkan manusia sebagai pengguna ruang untuk membuat hubungan yang kuat antara ruang dengan kehidupan mereka dan dunia yang lebih luas,” sambung Songgo.

Sementara Datuk Al Azhar mengatakan, literasi sastra bukan sekedar membaca dan menceritakan kembali, namun lebih dari itu, yakni memaknainya secara luas.

Menurut Al Azhar, sastra akan memerdekakan pikiran dan jiwa penulis dan pembacanya. “Mungkin karena itu, masyarakat di negeri ini tidak didorong untuk membaca karya sastra sebanyak-sebanyaknya. Karena kalau banyak membaca sastra, maka akan lebih merdeka cara berpikirnya,” ujarnya.

Sedangkan Kazzaini KS mengingatkan perlunya membangkitkan semangat berlitersi bagi kalangan muda dan menghidupkan kembali literasi media cetak.

Siti Salmah mengingatkan, budaya literasi bisa dibangun dari lingkungan keluarga. “Orang tua bisa mendongeng menjelang anak-anaknya tidur, menjadikan membeli buku sebagai kebutuhan primer dan membuat perpustakaan keluarga,” tuturnya.

Sambung Siti Salmah, semangat berliterasi bisa dibangun dengan mengoptimalkan peran perpustakaan daerah dan lembaga-lembaga pendukung. Kemudian, menguatkan komunitas-komunitas literasi di masyarakat, membuat kegiatan menarik seperti lomba menulis, lomba baca puisi, bercerita, diskusi buku, menerbitkan buku dan lainnya.

Hadirkan Pemusik Jalanan

Ketua panitia diskusi, Irwanto menambahkan, budaya literasi bisa didefinisikan sebagai kemampuan di mana setiap orang memiliki sikap yang cerdas, peka (berempati), jeli, pembelajar, berbudaya, mampu membaca lingkungannya dan mampu mengaktualisasikan dalam tulisan atau karya.

Lanjut Irwanto, panitia juga mengundang sejumlah pihak sebagai peserta, seperti mahasiswa, asosiasi wartawan, pimpinan media, organisasi penulis, sastrawan, Dinas Kebudayaan Provinsi Riau, Dinas Pendidikan Provinsi Riau, dan lainnya.

Untuk menyemarakkan acara ini, kata Irwanto, panitia juga menampilkan pemusik jalanan, pembacaan puisi, dan teaterikal sebagai hiburan. Juga ada hadiah lawang bagi peserta yang aktif dalam diskusi tersebut.

Di akhir acara, pihak penyelenggara memberikan cenderamata kepada narasumber dan moderator.