SIAK – Pandemi Covid-19 belum juga berakhir, dan kegiatan belajar mengajar masih dilakukan secara daring di Kabupaten Siak. Sayangnya belajar dalam jaringan (daring) ini di Kampung Tumang, Kecamatan Siak sangat tidak maksimal. Sebab sulitnya mendapatkan jaringan seluler di kampung itu. Ironisnya, warga kampung Tumang harus memanjat pohon untuk mendapatkan signal.
Pengalaman itu diceritakan Sutrimo (42) tokoh masyarakat Tumang saat kampanye dialogis calon bupati Siak nomor urut 2 Alfedri-Husni, Jumat (30/10/2020) di rumah Syukirman.
Pengakuan Sutrimo ini membuat warga yang hadir tertawa. Sebab, rata-rata warga kampung itu pergi ke tempat yang lebih tinggi untuk mendapatkan signal telepon seluler.
“Kebutuhan jaringan telepon genggam dan internet sangat kami rasakan akhir-akhir ini. Anak -anak di sini belajar daring sangat susah, kadang harus ke lapangan atau sekaligus pergi ke Siak untuk mendapatkan signal,” kata Sutrimo.
AS Sitorus (35) warga setempat juga mengungkapkan pengalaman uniknya untuk menangkap signal. Ia sering memanjat pohon untuk sekadar menelepon keluarga di kampung halaman, Siantar, Sumatra Utara. Sebagai perantau Batak yang sudah lebih 10 tahun menetap di Tumang, hubungannya dengan sanak keluarga di Siantar masih sangat erat.
“Berkabar ke keluarga di kampung merupakan kewajiban bagi kami perantau. Begitu cara kami menjaga hubungan kekeluargaan serta melepas rindu dengan famili,” kata Sitorus.
Sebelum menelepon keluarganya di kampung, Sitorus biasanya naik ke pohon mangga. Di atas pohon itu ia bertengger lalu menekan nomor telepon yang hendak dihubungi.
“Sering sekali, kadang saya manjat pohon mangga, kadang pohon jambu, ya macam-macamlah. Kadang ke lapangan yang lokasinya agak tinggi,” kata pria yang sehari-hari bekerja sebagai petani itu.
Kebutuhan terhadap signal telepon seluler ternyata tidak hanya untuk sekadar nelfon ke kampung halaman. Namun, anaknya Neiza Pratama Putri (14) yang duduk di kelas 10 MAN 1 Siak membutuhkan signal telepon dan jaringan internet. Neiza hanyalah seorang dari ratusan anak sekolah yang ada di kampung itu yang membutuhkan jaringan internet untuk belajar daring.
“Awal ada kebijakan belajar jarak jauh, anak saya kesulitan. Ponsel ada tapi signal tak ada. Paket data dibeli tetapi jaringan internetnya tidak ada di rumah. Terpaksa kami pergi ke Siak atau ke lapangan bola untuk menangkap jaringan,” kata Sitorus.
Setelah berjalan sekitar 2,5 bulan, Sitorus memasang wifi perseorangan di rumahnya. Anak-anak lain yang juga dituntut belajar daring menumpang di rumahnya. Namun kapasitas wifi terbatas dan tidak mampu menampung lebih 10 anak.
“Hanya untuk 10 anak bisanya, lebih dari itu lelet lagi. Jadi tetap kami di sini susah juga, makanya kami di kampung ini merasakan betapa jaringan internet dan signal telepon genggam sangat dibutuhkan,” kata dia.
Baik Sutrimo maupun Sitorus menumpangkan harapan kepada Alfedri untuk dapat mewujudkan kebutuhan mereka. Padahal Tumang adalah kampung yang dibelah jalan lintas kabupaten yang menghubungkan Siak, Sungai Mandau dan Perawang.
“Bagaimana caranya agar menara telekomunikasi ada di kampung kami ini tahun depan,” kata Sitorus lagi.
Keinginan itu disambut hangat Alfedri. Ia juga sudah memetakan permasalahan yang ada di Tumang sebelum datang berkampanye di kampung itu.
“Iya, kami juga merasakan akan pentingnya signal telepon genggam dan jaringan internet di kampung ini. Ini menjadi catatan prioritas kami dalam mewujudkan provider telekomunikasi membangun menaranya di sini,” kata Alfedri.
Ia meminta agar masyatakat Tumang membuat proposal permohonan. Berdadarkan itu, Alfedri bakal menjalin kerjasama dengan provider telekomunikasi berjejaring nasional dengan kapasitas yang kuat dan umum.
“Ada banyak sekali penyedia jasa jaringan yang dapat kita ajak. Tentu kita kumpulkan data masyarakat terlebih dahulu,” kata dia.
Alfedri juga mengungkapkan kebutuhan masyarakat Tumang selaras dengan programnya Smart Kampung. Program ini untuk meningkatkan pelayanan di kampung-kampung yang berbasis internet.
“Jadi mau tidak mau kita mengejar kebutuhan ini dengan cepat. Kebutuhan internet adalah kebutuhan universal yang prioritas,” kata dia.
Jika sudah ada provider membangun menara telekomunikasi di Tumang nantinya, penyedia jaringan internet bisa dihendel oleh BUMD Siak. Pemkab Siak melalui BUMD itu bisa memberikan jaringan yang handal untuk masyarakat.
“Kita upayakan tidak di Tumang saja, tetapi di kampung -kampung lain yang masih lemah jaringan internet dan signal telekomunikasinya,” kata dia.
Di Tumang, Alfedri mendapat sambutan yang hangat dari warga. Namun pertemuan kampanye dialogis itu hanya dibatasi untuk 50 orang. Kegiatan berlangsung dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat, diawasi Panwaslu kecamatan Siak, TNI dan Polri.
Seusai kampanye, Alfedri menyempatkan diri berkunjung ke pembudidaya madu melivera. Alfedri juga melihat peluang untuk pembudidaya madu itu.
“Jika kampung ini sudah mempunyai jaringan internet nanti, produk seperti ini bisa dipasarkan secara online. Ini salah satu dukungan kita untuk produsen lokal,” kata dia.




