SELATPANJANG – Mahasiswa yang tergabung di Himpunan Pelajar Mahasiswa Kecamatan Tebingtinggi Barat (Hipma-TTB) Pekanbaru mempertanyakan peran aktif perusahaan Energi Mega Persada (EMP) Malacca Strait SA yang beroperasi di wilayah Tebingtinggi Barat, Kepulauan Meranti, Riau.
Pasalnya, setelah sekira 5 tahun beroperasi di wilayah tersebut, perusahaan minyak dan gas (migas) itu dinilai tidak ada perhatian khusus dari pihak perusahaan terhadap masyarakat setempat.
“Kini perusahaan EMP Malacca Stait sudah memperoleh apa yang diinginkan hajatnya di wilayah tanah Kecamatan Tebingtinggi Barat berupa minyak dan gas bumi. Namun sangat disayangkan belakangan ini timbul polemik di masyarakat yang berada di lingkungan sekitar pengeboran minyak EMP. Selaku mahasiswa yang berdomisili di Kecamatan Tebingtinggi Barat, Hipma-TTB hadir sebagai penyambung lidah dari masyarakat ke pemerintah ataupun dari masyarakat kepada pihak keadilan,” ungkap Ketua Umum Hipma-TTB, Sutrisno, Kamis (12/8/2021).
Dijelaskan Sutrisno, Ia bersama pengurus lainnya menanggapi persoalan itu karena belakangan ini banyak timbul kekecewaan di masyarakat, sehingga ia bersama teman-temannya menjadi tempat aduan masyarakat dan tidak bisa ambil diam. Baginya kerisauan masyarakat juga menjadi masalah bagian dari kerisauan mahasiswa yang berdomisili di Tebingtinggi Barat.
“Jadi, selama beroperasi di wilayah kami partisipasi dan apresiasi besar apa yang sudah perusahaan lakukan dan berikan dilingkungan kami. Sementara SDA (sumber daya alam) kita terus dikuras dan diambil sehingga menyebabkan kerusakan akibat pengeboran, sedangkan SDM kami tidak pernah diberi perhatian secara khusus dari perusahaan,” kesal Sutrisno.
Kekesalan terhadap perusahaan juga ditimpal oleh Rian, selaku Sekjend Hipma-TTB, menurut Rian yang seharusnya dengan hadirnya perusahaan SKK Migas PT EMP Malacca Strait ini mampu memberi perhatian khusus terhadap SDM di wilayah Tebingtinggi Barat.
“Harusnya bisa membantu dalam menstabilkan ekonomi masyarakat dengan memberikan peluang ketenagakerjaan kepada masyarakat tempatan khususnya Tebingtinggi Barat serta membuat pelatihan-pelatihan guna membangun peningkatan soft skil dan peningkatan SDM setempat,” ucap Rian.
Dibeberkan Rian, sebelumnya pengurus Hipma-TTB juga pernah mengajak dan meminta audiensi kepada pihak perusahaan, namun hingga saat ini tak kunjung terealisasi dengan berbagai alasan. Selanjutnya pengurus Hipma-TTB Pekanbaru menyampaikan sejumlah tuntutan kepada pihak perusahaan, diantaranya:
1. Optimalkan pencegahan Covid-19 di kawasan perusahaan EMP Malacca Strait dan pemberian bantuan sosial.
2. Pemberian bantuan pendidikan untuk mahasiswa yang kurang mampu dan mahasiswa yang berprestasi di Kecamatan Tebingtinggi Barat.
3. Prioritaskan ketenagakerjaan skil ataupun non skil masyarakat tempatan khususnya yang berdomisili di Kecamatan Tebingtinggi Barat.
4. Bikin pelatihan-pelatihan pekerja agar masyarakat tidak selalu terkendala dalam sertifikasi kerja.
5. Perbaiki kompensasi ganti rugi lahan masyarakat, dan
6. Menyelesaikan permasalahan Amdal dari PT EMP Malacca Strait.
“Jika tuntutan kami ini tidak dipandang dan di respon baik oleh pihak perusahaan, maka kami selaku mahasiswa/i bersama-sama demi kepentingan kalayak masyarakat banyak maka kami akan turun ke lapangan untuk meminta keadilan bersama,” pungkasnya.
Sementara itu, pihak perusahaan EMP Malacca Strait SA melalui humasnya, Hansardi mengaku akan melakukan koordinasi terlebih dahulu.
“Kita koordinasikan dahulu ya,” ucapnya singkat via pesan whatsaap.










