HK Pastikan Pembangunan dan Operasional Jalan Tol Trans Sumatera Tak Rusak Ekosistem

banner 468x60

JAKARTA – Menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke 76, PT Hutama Karya (Persero) (Hutama Karya) terus melanjutkan penugasan dari Pemerintah Indonesia untuk membangun Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS).

JTTS merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) melalui Peraturan Presiden Nomor 100 Tahun 2014 tentang Percepatan Pembangunan Jalan Tol di Sumatera, kemudian Perpres tersebut disempurnakan menjadi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 117 Tahun 2015 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 100 Tahun 2014 tentang Percepatan Pembangunan Jalan Tol di Sumatera.

banner 400x400

Berdasarkan kedua Perpres tersebut, Hutama Karya mendapatkan penugasan dari pemerintah untuk membangun Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) yang meliputi pendanaan, perencanaan teknis, pelaksanaan konstruksi, pengoperasian dan pemeliharaan, dalam rangka pengembangan kawasan di Pulau Sumatra.

Tercatat hingga saat ini sepanjang 531 km JTTS telah dioperasikan oleh perusahaan dan dapat dilalui oleh masyarakat. Melalui akun Instagram resminya, Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo memperlihatkan tayangan kondisi terkini jalan tol pertama di Pulau Sumatra itu. Ia juga menyampaikan banyak manfaat atas terbangunnya JTTS.

“Jalan tol Trans Sumatera akan memangkas waktu tempuh antar daerah, memperlancar arus barang, dan menghidupkan titik-titik perekonomian baru di sepanjang Pulau Sumatra. Pembangunan dan pengoperasiannya juga menyerap ratusan ribu tenaga kerja,” ujar Jokowi melalui akun media sosial resminya, Rabu (18/8/2021).

Tak lupa ia menekankan bahwa pembangunan infrastruktur menjadi salah satu strategi yang memberikan daya ungkit bagi percepatan pemulihan ekonomi nasional.

Sejalan dengan arahan pemerintah dan tema Kemerdekaan RI ke-76 yakni “Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh”, Hutama Karya membuktikan bahwa perusahaan tetap mampu menjawab tantangan dengan telah membangun dan mengoperasikan 500km lebih JTTS hanya dalam waktu kurang lebih lima tahun, lebih cepat daripada rata-rata waktu pembangunan pada umumnya.

Direktur Operasi III Hutama Karya Koentjoro menyampaikan bahwa selain memiliki progress yang signifikan, Hutama Karya memastikan bahwa dalam pembangunan hingga pengoperasian JTTS, perusahaan telah melakukan berbagai kajian dan analisis dampak kehadiran JTTS bagi lingkungan dan masyarakat, sehingga mitigasi risiko dapat dilakukan sejak awal.

“Pembangunan dan pengoperasian JTTS kami pastikan tidak merusak ekosistem. Kami sudah hitung AMDAL-nya, dan seperti yang disampaikan oleh Pak Presiden bahwa kehadirannya membawa banyak dampak dan manfaat bagi masyarakat khususnya di Sumatra,” ujar Koentjoro.

AMDAL SEBAGAI FONDASI AWAL PEMBANGUNAN JTTS

Pada umumnya, pembangunan fisik suatu tempat akan menimbulkan perubahan kualitas komponen-komponen lingkungan hidup di sekitar lokasi pembangunan, baik itu perubahan yang berdampak positif maupun perubahan yang berdampak negatif.

Jalan tol merupakan salah satu prasarana yang sangat vital bagi moda transportasi darat.

Keberadaan jalan tol yang menghubungkan antar kota sangat penting untuk memperlancar lalu lalang kendaraan sehingga dapat meningkatkan distribusi baik orang, barang maupun jasa.

Meningkatnya distribusi orang, barang maupun jasa dari satu kota ke kota lainnya pada akhirnya akan berdampak pada persebaran sumber daya sehingga tempat atau kota lain yang tidak memiliki sumberdaya tersebut akan terpenuhi kebutuhannya. Jalan tol menyediakan akses jalan yang bebas hambatan, efisien, modern dan aman bagi moda transportasi darat.

Namun, sebagaimana kegiatan pembangunan pada umumnya, seringkali tidak dapat dihindari dampak negatif berupa penurunan kualitas lingkungan yang merupakan salah satu dampak dari pembangunan jalan tol. Apabila kegiatan pembangunan tol tidak dikelola dan direncanakan dengan baik, maka akan timbul dampak negatif yang tak tertangani terhadap lingkungan di sekitarnya, baik terhadap komponen-komponen lingkungan fisika-kimia, komponen sosial-ekonomi-budaya, hingga kesehatan masyarakat.

Oleh karena itu, sebagai salah satu BUJT di Indonesia, Hutama Karya turut memperhatikan setiap tahapan-tahapan dalam proses pembangunan jalan tol. Hal ini dilakukan sebagai upaya perusahaan untuk meminimalisir dampak negatif dan mengoptimalkan dampak positif yang terjadi dalam proses tersebut. Aspek penting dalam proses pembangunan jalan tol yakni tersedianya Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). AMDAL menjadi fondasi awal proses pembangunan dikarenakan mencakup seluruh komponen-komponen yang menyangkut dampak terhadap lingkungan hidup serta menjamin suatu usaha atau kegiatan layak secara lingkungan.

ATASI DAMPAK POTENSIAL YANG TIMBUL DENGAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN YANG TERENCANA

Kerapkali komponen lingkungan baik fisik maupun kimia timbul sebagai dampak potensial dalam tahapan konstruksi pembangunan jalan tol. Dampak potensial yang timbul diantaranya yakni penurunan kualitas air permukaan, penurunan kualitas udara hingga perubahan bentang alam. Hal tersebut pada dasarnya telah menjadi perhatian Hutama Karya saat melakukan proses kajian sebelum tahap konstruksi dimulai.

Koentjoro menyampaikan bahwa beberapa tindakan yang telah dilakukan oleh perusahaan untuk mengatasi timbulnya permasalahan tersebut yakni penggunaan alat berat, kendaraan dan mesin pendukung yang layak pakai serta terkontrol emisinya, memindahkan drainase eksisting / membuat drainase sementara untuk mengganti drainase eksisting selama pekerjaan tanah berlangsung, perencanaan dan pelaksanaan cutt and fill (menguruk tanah) sesuai dengan prosedur yang berlaku mengacu pada SNI dan standar teknis, melakukan penanganan permukaan yang miring dengan perkerasan atau penanaman rumput.

Tak hanya itu, upaya pengelolaan lingkungan juga dilakukan Hutama Karya melalui pendekatan teknologi yang mengikuti perkembangan ilmu dan sesuai dengan sifat dampak yang timbul akibat pembangunan jalan tol di masing-masing ruas JTTS. Pendekatan ini diharapkan mampu mencegah, meminimalisir, dan memperbaiki kerusakan serta menganggulangi pemborosan sumber daya alam.

“Upaya-upaya tersebut diantaranya yakni pada tahap persiapan lahan, Hutama Karya melakukan pematangan lahan secara matang pada area yang terkait dengan irigasi, sehingga fungsi irigasi tidak terputus total, menyediakan kolam-kolam yang berfungsi sebagai penyerap sedimen (sand trap) untuk meminimalisir laju sedimentasi yang berasal dari jalan yang disiapkan untuk jalan tol,” ungkap Koentjoro.

“Sedangkan pada tahap konstruksi Hutama Karya melakukan pemilihan metode aplikasi tiang pancang (bore pile) dalam membangun jembatan penghubung untuk meminimalisir tingkat kebisingan dan timbulnya efek pergerakan tanah yang besar,” terang Koentjoro.

banner 970x250