PEKANBARU – Bupati Kepulauan Meranti dua periode, Irwan Nasir, akhirnya menjelaskan kenapa ada banyak honorer di Kepulauan Meranti selama masa kepemimpinannya dahulu.
Diakui Irwan, di awal-awal pemerintahannya dulu, Kepulauan Meranti, tepatnya Kota Selat Panjang merupakan daerah yang baru saja memekarkan diri dari Kabupaten Bengkalis.
Meski sudah menjadi kabupaten sendiri, kata Irwan, angka premanisme di Selat Panjang sangat tinggi hingga menimbulkan suasana tidak kondusif karena sering terjadi keributan.
Suasana yang kondusif, lanjutnya, membuat sektor perekonomian di Kepulauan Mersnti menjadi lesu, dan dampaknya angka kemiskinan sangat tinggi, bahkan berdasarkan data waktu itu hampir sepertiga orang Kepulauan Mersnti masuk dalam kategori miskin.
Irwan kemudian berinisiatif menjalin komunikasi dengan kepala-kepala preman yang ada disana, dan mencoba memberi solusi dengan memberi pekerjaan kepada mereka.
“Karena Kepulauan Meranti itu daerah baru, kita rekrut saja mereka menjadi honorer, dominan kita tempatkan di Satpol PP,” ujar Irwan kepada GoRiau.com, baru-baru ini.
Rencana Irwan ini ternyata tak berjalan mulus, karena mantan preman-preman tersebut belum bisa menghilangkan sikap premannya, sehingga iklim birokrasi menjadi tidak kondusif, dimana ada honor yang bercarut dan bertindak brutal.
#M244571ScriptRootC1191910 { min-height: 300px;text-align:center; display:block;margin:15px 0 }
Irwan tak kehabisan akal, dia kemudian menjalin komunikasi dengan Polda Riau, untuk bisa mendidik para honorer ini di Sekolah Polisi Negara (SPN), sehingga mereka bisa menghilangkan sikap premannya.
“Saya sampaikan ke polisi untuk melatih mereka dengan latihan yang keras, kasih saja dosis paling tinggi, makanya mereka dilatih selama tiga bulan disana, dan alhamdulillah keluar dari sana mereka sudah tidak seperti preman lagi,” tuturnya.
Selain kalangan preman, Irwan juga merekrut banyak perempuan-perempuan muda untuk dijadikan honorer karena dia melihat banyak anak muda menganggur akibat minimnya lapangan pekerjaan.
Irwan mengaku khawatir jika perempuan-perempuan muda ini nantinya akan terpengaruh dengan gaya hidup hedon. Mengingat, Kepulauan Meranti berdekatan dengan Kota Batam.
“Daripada berbuat yang tidak-tidak, kita angkat saja mereka jadi honorer, karena waktu itu sedikit sekali orang Meranti yang berkuliah ke Pekanbaru,” tuturnya.
Pengangkatan honorer besar-besaran ini ternyata efektif dalam meningkatkan angka ekonomi masyarakat, dan terbukti angka kemiskinan menurut drastis. Ekonomi yang stabil kemudian berdampak juga pada angka pendidikan masyarakat.
“Jadi, tidak benar kalau ada yang bilang saya membawa keluarga saya untuk dijadikan hononer, keluarga saya banyak di Batam, sedikit sekali yang ada di Meranti. Ini murni upaya saya membangkitkan ekonomi masyarakat,” tutupnya.










