Tanggul Jebol, Pendangkalan Dua Sungai di Rangsang Barat Kepulauan Meranti, Sopandi: Perlu Perhatian Serius Pemprov

SELATPANJANG – Naiknya air laut karena pasang rob (air laut meluap) dalam beberapa hari belakangan ini mengakibatkan rusaknya lahan sawah masyarakat di Pulau Rangsang, ditambah dengan rusaknya tanggul dan pendangkalan sungai Sendaur dan sungai Melai, Rangsang Barat.

Rendaman air itu mengakibatkan ratusan hektare sawah di Rangsang Barat dan Rangsang Pesisir mengalami gagal panen karena beberapa tanggul di desa Melai, Bina maju dan desa tetangga mengalami rusak berat atau jebol.

“Kami mengharapkan ada perhatian serius dari pemerintah baik kabupaten maupun provinsi agar tanggul bisa di perbaiki tahun depan,” ujar Muhamad Fairus petani asal Bina Maju, Senin (6/12/2021).

Dijelaskan Muhamad, bahwa sungai Sendaur yang mulai mendangkal itu merupakan sungai yang dibangun saat Kepulauan Meranti masih berada di kabupaten induk Bengkalis.

“Iya sungai itu sejak Kabupaten Bengkalis lagi, jadi wajar saja kalau sudah mendangkal tentunya harus diperbaiki lagi agar bisa normal kembali, kalau tidak maka tidak tau seperti apa nanti nasib petani kita kedepannya,” ungkapnya.

Sementara itu, Anggota DPRD Kepulauan Meranti dari Dapil III (Rangsang Barat Rangsang Pesisir dan Tebingtinggi Barat), Sopandi SSos menambahkan bahwa naiknya air pasang laut pada bulan Desember (2021) ini mengakibatkan rusaknya lahan sawah masyarakat di Rangsang Barat dan Rangsang Pesisir, ditambah dengan rusaknya tanggul dan pendangkalan sungai Sendaur dan Sungai Melai mengakibatkan air yang masuk akan lama keluar di tambah musim penghujan bukan saja padi, juga mengakibatkan rusaknya kebun pinang masyarakat.

“Saya selaku wakil dari masyarakat Rangsang Barat dan Rangsang Pesisir mengharapkan agar pak Gubernur Riau bisa melakukan normalisasi dua sungai ini yakni sungai Sendaur dan Sungai Melai, juga rehabilitasi tanggul yang ada di Rangsang Barat,” ungkapnya.

#M244571ScriptRootC1191910 { min-height: 300px;text-align:center; display:block;margin:15px 0 }

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Ifwandi menjelaskan bahwa tahun ini air pasang cukup tinggi, jadi pada umumnya lahan-lahan pertanian di kabupaten bungsu di Riau kena banjir.

“Hampir rata-rata kena banjir, baik di Rangsang Barat, Rangsang Pesisir, Meranti Bunting, Batang Meranti sampai ke Mengkirau. Mengkirau itu sebenarnya tidak pernah banjir tapi kali ini memang kena banjir habis,” ucapnya.

Ifwandi mengaku pihaknya sedang melakukan pendataan terhadap lahan-lahan masyarakat yang terkena banjir.

“Jadi saya sudah minta sama PPL untuk mendatanya berapa hektare yang terdampak banjir dan berapa KK, nanti mau saya laporkan ke pak bupati dan ini dalam tahap pengumpulan data lagi,” ujarnya.

Kemudian kata Ifwandi, pihaknya juga telah mendapat laporan langsung dari sejumlah kades terkait lahan masyarakatnya yang terkena banjir tersebut.

“Sejumlah kades juga sudah melaporkan seperti Bina Maju dan Mekarbaru. Memang kondisinya seperti ini, curah hujan tinggi terus air pasang juga besar kemudian tanggul-tanggul pengaman kita ini banyak yang dilangkah sama air pasang ni,” ujarnya lagi.

“Kalau untuk tanggul-tanggul ini urusannya PU gawenya karena itukan besar. Kalau di Dinas Pertanian untuk saluran sekunder aja atau yang kecil-kecil gitu. Nanti juga kita akan berkoordinasi dengan PU bagaimana kedepannya tanggul-tanggul yang rendah maupun yang rusak di perbaiki lagi,” jelasnya.

Ditambahkan Ifwandi, selain itu ada juga tanaman lain yang rusak di Desa Gogok, akibat banjir yang melanda di kabupaten termuda di Riau itu, seperti tanaman jagung dan lain sebagainya.

“Memang kasihan juga kita dengan kondisi petani sekarang takutnya gagal panen tentu akan menjadi persoalan baru karena akan kekurangan kebutuhan pangan nantinya. Mudah-mudahan persoalan ini bisa segera diatasi,” pungkasnya.