PEKANBARU – Aliansi laskar Melayu Riau yang tergabung dalam Tokoh Persebatian Melayu Bersatu memperhatikan dan mengikuti proses transisi blok Rokan sejak 2 tahun ini. Kabar tentang pergantian dirut Pertamina Hulu Rokan (PHR) dari Yudantoro ke Jaffee Suardin mendapat perhatian serius dari Laskar Melayu Riau.
Informasi lapangan dari panglima Melayu di beberapa Daerah Riau Rokan Hilir, Rokan Hulu, Kampar, Bengkalis dan Dumai mereka melakukan pemasangan spanduk penolakan terhadap Jaffe Suardin sebagai pimpinan PHR,
“Dari dulu kami meminta putra daerah jadi pimpinan PHR tapi tidak dipenuhi, hari ini dengan seenaknya Meneg BUMN dan Pertamina mengganti Dirut PHR, padahal banyak putra daerah Melayu yang jauh lebih kompeten dari dari pada Jaffee yang kabarnya baru berpengalaman 7(tujuh) tahun di Oil Gas Industri di bidang keselamatan Kerja (HES) di Shell Oil, bukan di bidang core perminyakan itu sendiri. Dan menjadi deputy perencanaan SKK Migas melalui katebelece dari Archandra Tahar selaku wamen ESDM pada waktu itu, padahal kalau mau fair dan jujur masih banyak insan Migas tanah air atau pegawai karir di internal SKK Migas sendiri yang lebih layak untuk posisi tersebut,” Datuk Rachmad sebagai salah satu Tokoh persebatian Melayu Riau.
Menurutnya, jika pergantian dirut PHR hanya melalui perkoncoan dan kenalan tanpa fit proper test, maka selamanya tanah Melayu tidak akan mendapat bagian dalam pengelolaan blok Rokan, belum lagi tentang tuntutan agar Riau diberikan 39 persen saham pengelolaan blok Rokan. Sebaiknya Pertamina harus transparan dan jelas dalam pergantian dirut PHR ini, jangan sampai Riau dipersalahkan karena produksi yang menurun karena salah kepemimpinan.
“Kami meminta kepada Pertamina untuk membatalkan pengangkatan Jaffee atau kalau tidak diganti dengan Putra daerah kami sebagai Dirut Pertamina Hulu Rokan (PHR). Selama ini kami cukup mendengar bahwa alasan dirut PHR adalah pegawai karir dari internal Pertamina sendiri yang sudah sangat berpengalaman, sehingga tidak ada kesempatan untuk saat ini bagi Putra Melayu menjadi dirut PHR, tapi hari ini dirut PHR diganti dengan anak kemarin sore yang hanya bermodalkan lulusan luar negeri tapi tidak pernah sekalipun memimpin daerah operasi Migas, kami tidak terima itu,” tandasnya lagi. (Rilis)










