PEKANBARU – Ketua Bidang Pembinaan Wilayah Sumatera Bagian Utara Dewan Pengurus Pusat (DPP) PKS, Hendry Munief, saat ini pihaknya tengah menjalin silaturahmi dan persahabatan dengan semua elemen.
“Alhamdulillah, sampai hari ini di Sumbagut, kita masih satu komando saja, semua adalah sahabat kita. Walau posisi kita sekarang oposisi, hubungan kita tetap baik dengan yang lain. Karena kita kan kritiknya konstruktif,” ujar Hendry, Minggu (19/9/2021).
Kondisi sekarang, jelas Hendry, adalah menjaga semua elemen untuk tetap bersatu dan itu memang agak sulit karena masyarakat terbelah dua pasca Pilpres. Makanya, PKS terus menjalin silaturahmi dengan semua pihak supaya semua tetap dalam persatuan.
“Kalau kita kritis itu cuma semata-mata untuk menyeimbangkan saja. Menjalankan check and balance, kan seperti bawa sepeda, harus di kiri kanan yang dikayuh tidak bisa kanan saja. Itu yang kita jaga,” tuturnya.
Berkat silaturahmi yang terus terjalin belakangan, Hendry menerima banyak sekali informasi-informasi tak benar tentang PKS. Misalnya, informasi tentang PKS adalah partai ekslusif dan sangat tertutup untuk non muslim.
“Waktu saya turun di Nias, Sumatera Utara, ada informasi seperti itu. Tapi kita sudah jelaskan, bahwa kita terbuka kepada semua orang selagi dia WNI dan berusia minimal 17 tahun,” katanya.
Di Kepulauan Riau, lanjut Hendry, bahkan ada informasi yang menuding bahwa PKS akan menutup semua kelenteng jika PKS menjadi penguasa. Lagi-lagi dia meluruskan informasi yang tidak benar seperti ini.
#M244571ScriptRootC1191910 { min-height: 300px;text-align:center; display:block;margin:15px 0 }
“Di Batam, ada pengusaha mengakh sangat takut sama PKS, karena dia berpikir PKS akan menutup semua kelenteng. Tapi setelah kita jelaskan, dia malah berbalik mendukung kita. Jadi, menurut saya informasi-informasi tak benar ine jadi berkembang karena kurang silaturahmi saja,” ujarnya..
“Nanti kita akan kirim tim dari Korwil Sumbagut untuk bergerak di Aceh, Sumatera Utara dan Kepri. Kalau untuk Riau dan Sumatera Barat sudah agak bagus progresnya. Intinya, kita harus lebih banyak duduk dan ngopi-ngopi dengan tokoh-tokoh di tiap daerah,” tutupnya.










