Proyek Jalan Pemda Pelalawan Disorot, Warga Keluhkan Debu Berterbangan

banner 468x60

Inforiau.ID – PELALAWAN — Aktivitas pembangunan Jalan Pemda, Kelurahan Kerinci Kota, Kecamatan Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, dikeluhkan warga.

Material timbunan yang belum tertutup membuat debu berterbangan setiap kali kendaraan melintas.

banner 338x250

Kondisi tersebut dirasakan masyarakat yang tinggal maupun menjalankan usaha di sepanjang ruas jalan yang tengah menjalani penimbunan dan peningkatan badan jalan, mulai dari Simpang Pemda Akasia hingga kawasan Gang Ananda.

Warga mengaku tidak keberatan dengan pembangunan tersebut.

Sebaliknya, peningkatan jalan dinilai sangat dibutuhkan untuk memperbaiki akses dan menunjang aktivitas masyarakat.

Namun, warga meminta pelaksana pekerjaan lebih memperhatikan dampak debu selama proses pengerjaan.

Nanda, salah seorang warga setempat, Kamis (3/9/2026), mengatakan penyiraman memang telah dilakukan.

Namun, frekuensinya dinilai masih kurang.

“Memang ada disiram, tapi biasanya hanya sekali pagi menjelang siang. Setelah itu kalau jalan sudah kering, debunya kembali beterbangan,” ujarnya.

Menurut Nanda, kondisi tersebut semakin terasa ketika cuaca panas dan kendaraan ramai melintas.

Material timbunan yang mengering kemudian menjadi sumber debu yang terbawa angin hingga ke rumah-rumah warga.

Ia berharap penyiraman dilakukan secara berkala, terutama pada waktu aktivitas kendaraan sedang padat.

“Kalau siang sampai sore jalan sudah kering, debunya banyak lagi. Apalagi kendaraan yang lewat cukup ramai,” katanya.

Keluhan serupa juga dirasakan pedagang yang mencari nafkah di sekitar lokasi proyek.

Ridho, salah seorang penjual makanan di sekitar Jalan Pemda, mengatakan debu yang beterbangan cukup mengganggu aktivitas berjualan.

Selain membuat lingkungan cepat kotor, ia khawatir debu mencemari makanan yang dijual.

“Kalau kendaraan lewat, debunya langsung naik. Kami yang jualan tentu terganggu. Makanan juga harus selalu ditutup supaya tidak terkena debu,” keluh Ridho.

Ia mengaku harus lebih sering membersihkan area tempat berjualan akibat debu yang masuk dan menempel di sekitar lokasi.

Ridho berharap pihak pelaksana dapat meningkatkan frekuensi penyiraman, terutama ketika kondisi badan jalan mulai mengering.

“Kalau bisa penyiramannya lebih sering, jangan hanya sekali. Karena kalau sudah kering, debunya kembali lagi setiap kendaraan lewat,” harapnya.

Warga juga menilai persoalan debu perlu menjadi perhatian karena Kabupaten Pelalawan masih menghadapi persoalan kualitas udara akibat kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Menurut Nanda, kondisi tersebut membuat masyarakat semakin khawatir, khususnya terhadap anak-anak dan warga yang beraktivitas di sekitar jalan.

“Sekarang kondisi udara juga sedang ada kabut asap. Kalau ditambah debu dari jalan, tentu masyarakat semakin khawatir,” ujarnya.

Selain mengotori rumah dan tempat usaha, debu yang beterbangan juga dinilai mengganggu kenyamanan pengguna jalan.

Pengendara yang melintas harus meningkatkan kewaspadaan ketika debu beterbangan cukup tebal.

Warga berharap Dinas PUPR Kabupaten Pelalawan maupun pihak pelaksana pekerjaan segera menindaklanjuti keluhan tersebut dengan meningkatkan intensitas penyiraman.

Masyarakat menegaskan, keluhan tersebut bukan berarti menolak pembangunan.

Warga justru berharap pekerjaan dapat segera rampung sehingga akses jalan kembali nyaman digunakan.

“Kami mendukung pembangunan ini. Jalan memang perlu diperbaiki. Tapi selama pengerjaan, kami berharap debunya dikendalikan supaya masyarakat tidak terlalu terganggu,” pungkas Nanda.

banner 970x250