Ngaku Dikeroyok, Kemudian Buat Laporan, Wandi: Mungkin Karena Merasa Anggota DPRD

banner 468x60

PEKANBARU – Peristiwa perseteruan antara Anggota DPRD Kota Pekanbaru, Ida Yulita Susanti dengan warga di Jalan Arifin Ahmad, memunculkan pro-kontra, dimana Ida mengklaim dikeroyok, sedangkan warga mengaku diserang pakai linggis.

Salah seorang saksi mata, Wandi, mengungkapkan, dirinya berada langsung saat peristiwa itu terjadi, karena rumah yang diserang oleh Ida merupakan rumah kakaknya.

banner 338x250

Diceritakan Wandi, sore itu hujan lebat melanda seluruh Kota Pekanbaru, dan air menggenang di beberapa ruas jalan, sehingga terjadi kemacetan di beberapa titik, termasuk putra Ida yang terkena dampaknya.

“Kejadiannya sore, anaknya tidak mau ngalah waktu pemuda setempat mengatur jalan, semua kesal karena jalan macet. Nah, anaknya ini waktu diatur gak mau, terus terjadi cekcok antara anaknya dan pemuda setempat, akhirnya diselesaikan oleh warga,” ujarnya.

Usai cekcok, anak Ida langsung masuk mobil dan memacu mobilnya dengan kencang dan menyenggol motor yang lewat dan menyenggol salah satu merupakan warga setempat.

Kemudian, setelah Maghrib sekitar jam 7 malam, Ida beserta suaminya membawa segerombolan orang sekitar 3 motor untuk menyerang rumah kakaknya pakai linggis.

Wandi dan beberapa warga sendiri sempat kesal melihat arogansi Ida, suaminya dan anaknya. Hanya saja, tokoh masyarakat setempat, Haris Kampai berhasil menenangkan warga yang mulai emosi.

#M244571ScriptRootC1191910 { min-height: 300px;text-align:center; display:block;margin:15px 0 }

“Saya kesal juga sama suaminya, sangat arogan. Setelah menyerang ke rumah warga, warga mengejar dan dia lari kemudian masuk parit sama mobil yang platnya palsu itu, abis itu mengamankan diri ke Radja Koffie,” tuturnya.

Wandi sendiri awalnya tidak kenal dengan kelompok yang menyerang rumah kakaknya ini, namun pagi harinya dia membaca berita dan mengetahui bahwa yang berkonflik tadi malam adalah Anggota DPRD Pekanbaru dan suaminya yang merupakan ASN di Pemko Pekanbaru.

Dipastikannya, malam itu tidak ada kontak fisik, karena mereka melihat Ida sebagai seorang perempuan. Makanya, di cukup heran dengan pemberitaan yang menyebut Ida dilarikan ke RS.

“Padahal warga mau hancurkan mobilnya, tapi kita tahan. Malam itu, dia (Ida) bilang mau berobat, kami tak tahu apa yang diobat, eh rupanya malam itu melapor ke Polresta, lucu juga,” tuturnya.

Wandi juga menyayangkan putra Ida yang memberikan laporan tidak benar kepada orang tuanya, sehingga memicu konflik. Padahal, persoalan ini sudah diselesaikan secara baik-baik.

“Mungkin karena anaknya merasa ibunya anggota dewan dan ayahnya pejabat, jadi dia merasa benar,” tegasnya.

Wandi dan warga setempat juga menyesalkan adanya pernyataan dari salah seorang pengunjung Radja Koffie yang menyampaikan ke media bahwa Ida dan keluarganya dibacok, dan hal yang sama juga disampaikan Ida dalam laporannya ke polisi.

“Informasi bohong kalau ada yang mengatakan anaknya dibacok, apalagi sampai dilarikan ke RS, itu informasi palsu, kita juga sedang cari tau siapa yang menyampaikan berita bohong tersebut,” tutupnya.

banner 970x250