PEKANBARU – Pagi-pagi sekali, sejumlah masyarakat di Duri, Kecamatan Mandau, Bengkalis, sudah harus berangkat ke Kota Dumai. Keberangkatan mereka ini dilatari oleh keinginan kuat untuk mengikuti vaksinasi.
Masing-masing dari mereka memiliki alasan tersendiri untuk mengikuti program nasional ini, ada yang ingin mendapatkan pelayanan administrasi pemerintahan, ada yang untuk syarat mengikuti CPNS, ada juga yang karena diwajibkan oleh perusahaan tempatnya bekerja.
Perjalanan mereka mencari vaksin ini tidak semuanya berhasil, ada yang bisa mengikuti vaksinasi, ada pula yang ditolak karena dianggap bukan masyarakat Dumai. Bagi yang berhasil tentu bahagia hatinya, yang belum tentu harus menanggung kecewa.
Salah seorang warga Duri, Andri, membenarkan fenomena tersebut, memang saat ini vaksin merupakan sesuatu yang sangat dicari-cari oleh masyarakat di Duri yang selama ini dikenal sebagai daerah kaya minyak, ‘ bawah minyak, atas minyak’.
“Vaksin ini langka di Duri, kalaupun ada itu tidak sesuai dengan tingginya permintaan, semua butuh vaksin soalnya, kalau ada vaksinasi yang pasti, ke Pekanbaru pun kami kejar,” katanya kepada GoRiau.com, Sabtu pagi (3/9/2021).
Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Riau, Hardianto, mengakui dirinya menerima keluhan serupa dari masyarakat di beberapa titik lokasi reses di Dapilnya, yakni Dumai, Bengkalis dan Kepulauan Meranti.
Daerah yang paling membutuhkan program vaksinasi, kata Politisi Gerindra ini, didominasi oleh warga di Kecamatan Mandau dan Pinggir. Sebab, dua kecamatan ini merupakan daerah industri perminyakan dan juga padat penduduk.
#M244571ScriptRootC1191910 { min-height: 300px;text-align:center; display:block;margin:15px 0 }
“Diawal-awal gerakan vaksinasi, banyak masyarakat tidak punya kesadaran vaksin, karena termakan isu hoax. Tapi hari ini, ketika kesadaran pentingnya vaksin itu muncul dan masyarakat sangat bersedia bahkan mencari-cari vaksin, vaksinnya yang tidak cukup,” ujar Hardianto.
Selaku wakil rakyat Mandau dan Pinggir di DPRD Riau, Hardianto sangat berharap supaya Gubernur Syamsuar bisa betul-betul serius memperjuangkan stok vaksin untuk masyarakat di Riau, terkhusus Mandau dan Pinggir.
“Kita berharap Pemprov Riau bisa menjemput bola kesana, kalau perlu jumpai Menteri Kesehatan. Minta langsung porsi vaksin sebanyak-banyaknya. Sehingga, target vaksin di Riau bisa tercapai. Kita ini kan sekarang mengejar ‘herd immunity’, supaya masyarakat bisa beraktivitas tanpa ada PPKM lagi,” terangnya.
Permintaan vaksin, lanjut Hardianto, tidak cukup dengan sambungan telepon saja, karena permintaan secara langsung tentu efeknya sangat berbeda dengan permintaan via telepon.
“Saya tidak memerintahkan, tapi saya sangat berharap supaya ini menjadi perhatian serius pemerintah. Kalau stok vaksin banyak, distribusikan secara proporsional. Misalnya untuk Bengkalis, beri porsi lebih banyak untuk Mandau dan Pinggir ini,” tuturnya.
Hardianto mengaku kasihan dengan perjuangan masyarakat, khususnya Duri yang sampai mengejar vaksin ke Pekanbaru dan Dumai. Artinya, mereka harus mengeluarkan biaya transportasi untuk mendapatkan vaksin, dan tak jarang mereka ditolak.
Bahkan, saat ini ada istilah ‘pejuang subuh’ di Mandau, dimana para pejuang ini rela berangkat subuh-subuh untuk mendapatkan vaksin ini.
“Kalau dulu, para ‘pejuang subuh’ itu banyak berhasil, tapi sekarang banyak yang tidak berhasil. Karena Pemko Dumai tentu mengutamakan masyarakat yang ada di wilayah teritorialnya, karena itu tanggungjawab Wali Kota Dumai,” terangnya.










