oleh

Selewengkan 3.000 Rapit Test Hibah Kemenkes, Kadiskes Kepulauan Meranti Terancam 10 Tahun Penjara

PEKANBARU – Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Kepulauan Meranti, Misri Hasanto, terancam 10 tahun penjara karena diduga menyelewengkan alat kesehatan rapit test hibah dari Kementrian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia (RI).

“Pelaku MH ini modusnya dengan memalsukan buku-buku atau daftar yang khusus untuk pemeriksaan administrasi dan menggelapkan barang yang dikuasai karena jabatannya dalam pemanfaatan rapid test antibody Covid-19, untuk dikuasai dan mendapatkan keuntungan,” kata Kapolda Riau, Irjen Pol Agung Setya Imam Effendy, Senin (20/9/2021).

banner 300x250

Akibat perbuatan yang merugikan negara dan masyarakat itu, Misri Hasanto disangkakan dengan Pasal 39 Jo Pasal 10.

“Nanti penyidik akan menyampaikan lebih lanjut. Hukuman mulai dari 5 sampai 10 tahun penjara,” tegas Agung.

Diberitakan sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Kepulauan Meranti, Misri Hasanto sudah selewengkan 3000 rapit test hibah dari Kementrian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia. (RI) sejak tahun 2020 akhir.

Sebanyak 3000 pieces alat rapid test antibody Covid-19 yang diterima oleh Diskes Kepulauan Meranti, dari Kemenkes RI melalui Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas II Pekanbaru, yang akan digunakan untuk penumpang udara dan laut ternyata tidak didistribusikan oleh Kadiskes Misri Hasanto.

“Bahwa kita menemukan fakta sebanyak 3000 rapid tes antigen yang diberikan dari Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Kota Pekanbaru itu telah diselewengkan oleh pelaku MH,” kata Kapolda Riau, Irjen Pol Agung Setya Imam Effendi.

#M244571ScriptRootC1191910 { min-height: 300px;text-align:center; display:block;margin:15px 0 }

Sebanyak 3.000 Pcs Rapit Test itu tidak pernah melaporkan ke bagian asset BPKAD maupun pengurus barang pada Dinkes Kabupaten Kepulauan Meranti dan menyimpan alat rapid test tersebut diruangan Kadiskes, yang seharusnya alat rapid test tersebut disimpan pada Instalasi Farmasi.

Sebagai laporan pertanggungjawaban pengunaan alat rapid test tersebut, Kadiskes pernah mengirimkan sebanyak empat kali daftar nama-nama penggunaan alat rapid test, dengan hasil non reaktif untuk total pemanfaat 2.500 orang ke Korwil Kerja KKP Selatpanjang.

“Dari laporan tersebut penggunaan sebanyak 2.500 non reaktif, hasil penyidikan ditemukan sebanyak 996 orang yang dilaporkan non reaktif ternyata tidak pernah melakukan tes rapid test,” ungkap Agung.

Tidak hanya itu,Kadiskes diduga mengalihkan pemanfaatan alat rapid test untuk pertugas Bawaslu jajaran Kabupaten Kepulauan Meranti yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan UPT. Puskesmas se-Kabupaten Meranti.

Pada tahapan pengawasan logistik dan kampanye pada tanggal 10 November 2020, Sebanyak 191 orang dan tanggal 20 November 2020 sebanyak 450 orang yang telah dilakukan pembayaran tunai sebesar Rp. 150.000 x 641= Rp. 96.150.000 sesuai dan kwitansi pembayaran Sekretaris Bawaslu Kabupaten Kepulauan Meranti.

“Rapid tes yang diterima Misri, juga digunakan untuk pemeriksaan kepada masyarakat dan berbayar Rp 150.000 dan setiap dananya di selundupkan,” tandas Agung.

Saat ini Polda Riau masih mendalami keterlibatan pihak lain yang diduga terlihat dalam aksi penyelewengan bantuan rapit test dari Kemenkes RI itu.

“Saat ini masih kita selidiki apakah ada pelaku lain yang terlibat, namun untuk saat ini hanya saudara MH,” tutupnya.

Untuk diketahui, Kadiskes Kepulauan Meranti, Misri Hasanto saat ini sudah ditahan di Mapolda Riau, sejak hari Jumat (17/9/2021). Ia langsung ditahan setelah diperiksa sebagai tersangka.

Dugaan penyimpangan anggaran penanganan covid-19 ini sebelumnya diusut oleh Polres Meranti. Dimana dalam perjalannya kemudian diambil alih oleh Polda Riau.